Xowlsmith
Kembali ke Jurnal
Think July 15, 2026 · 5 min

Identity → Transaction → Control: Thinking Framework yang Membentuk Merlin

Oleh Solo Mandor, Xowlsmith

Sebelum Merlin memilih arsitektur maupun stack, kami lebih dulu menemukan sebuah thinking framework. Identity → Transaction → Control menjadi cara kami memahami sebuah masalah sebelum menerjemahkannya menjadi sebuah sistem.

Di artikel sebelumnya kami bercerita tentang dua pola yang terus berulang. Ada teman yang mengelola brand fashion, menjalankan operasionalnya lewat beberapa aplikasi berbeda sekaligus — kasir di satu aplikasi, toko online di aplikasi lain, keuangan masih di Excel. Ada juga teman-teman pemilik vapestore, yang sudah memakai satu aplikasi kasir, tapi data antar cabang belum benar-benar tersambung.

Dari situ kami memahami masalah yang ingin diselesaikan Merlin.

Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana sebuah masalah bisa diterjemahkan menjadi sebuah sistem?

Jawabannya ternyata lebih sederhana dari yang kami bayangkan.

Setiap kali mulai mendiskusikan sebuah fitur, kami selalu kembali ke tiga pertanyaan yang sama.

  • Bagaimana pengguna akan melihat fitur ini?

  • Aktivitas apa yang benar-benar terjadi ketika fitur tersebut digunakan?

  • Siapa yang mengatur dan mengendalikan semuanya di balik layar?

Awalnya, tiga pertanyaan itu hanya menjadi cara kami mengurai sebuah masalah.

Semakin banyak fitur yang kami rancang, semakin sering pola yang sama muncul kembali.

Setiap diskusi boleh dimulai dari fitur yang berbeda, tetapi percakapannya hampir selalu berakhir pada tiga sudut pandang tersebut.

Lama-kelamaan kami merasa pola ini layak memiliki sebuah nama.

Tujuannya sederhana: agar kami memiliki bahasa yang sama setiap kali berdiskusi, mengevaluasi, dan mengambil keputusan.

Sejak saat itu kami menyebutnya Identity → Transaction → Control.

Satu Fitur, Tiga Sudut Pandang

Salah satu contoh yang paling mudah menjelaskan thinking framework ini adalah Section Manager.

Section Manager adalah panel admin yang digunakan untuk mengatur bagian mana saja yang tampil di halaman toko. Admin dapat menampilkan atau menyembunyikan sebuah section, mengubah urutannya, hingga menyusun tampilan halaman toko tanpa perlu mengubah kode.

Ketika kami melihat fitur ini melalui thinking framework tadi, kami menyadari bahwa satu fitur yang sama ternyata memiliki tiga sudut pandang.

Dari sisi Identity, Section Manager menentukan bagaimana sebuah toko hadir di hadapan pengunjung. Section mana yang muncul lebih dulu, bagian apa yang ingin ditonjolkan, hingga bagaimana identitas toko ditampilkan di halaman publik.

Saat pengunjung mulai membuka section tersebut, melihat produk, memilih varian, atau memasukkan barang ke keranjang, fokusnya bergeser ke Transaction. Di sinilah interaksi antara pengguna dan sistem berlangsung.

Sementara itu, seluruh pengaturan mengenai section yang tampil, urutannya, serta siapa yang memiliki hak untuk mengubahnya berada di Control melalui panel admin.

Di titik inilah kami memperoleh satu pemahaman baru.

Section Manager tetaplah satu fitur.

Yang berubah hanyalah sudut pandang saat melihatnya.

Dari pengalaman pengguna, ia berbicara tentang Identity.

Dari aktivitas yang berlangsung, ia menjadi Transaction.

Dari sisi pengelolaan, ia menjadi Control.

Saat itulah kami mulai melihat bahwa Identity, Transaction, dan Control bukan tiga bagian sistem, melainkan tiga cara melihat satu fitur yang sama.

Sejak menyadari pola tersebut, cara kami merancang fitur ikut berubah.

Kami tidak lagi melihat sebuah fitur sebagai satu layar atau satu halaman, tetapi sebagai satu kesatuan yang saling terhubung dari tiga sudut pandang.

Sebuah Cara Melihat Sistem

Semakin lama membangun Merlin, semakin jelas bahwa Identity, Transaction, dan Control adalah cara melihat sebuah sistem.

Setiap fitur dapat menyentuh ketiga layer tersebut secara bersamaan.

Perubahan pada Control dapat memengaruhi Identity yang dilihat pengguna.

Perubahan pada Identity juga dapat mengubah Transaction yang terjadi setelahnya.

Ketiganya saling terhubung karena sejak awal memang sedang membicarakan fitur yang sama.

Sejak saat itu, setiap kali mulai merancang sebuah fitur, kami selalu kembali ke tiga pertanyaan yang sama.

  • Bagaimana pengguna akan melihatnya?

  • Aktivitas apa yang benar-benar terjadi?

  • Siapa yang mengelola dan bertanggung jawab terhadapnya?

Menariknya, ketika ketiga pertanyaan tersebut mulai terjawab, banyak keputusan berikutnya ikut menemukan arahnya.

Struktur data menjadi lebih jelas.

Batas antar komponen mulai terlihat.

Tanggung jawab setiap bagian sistem menjadi semakin mudah dipahami.

Keputusan arsitektur pun berkembang mengikuti kebutuhan tersebut.

Sebuah Thinking Framework

Identity → Transaction → Control membantu kami memahami sebuah masalah sebelum memikirkan implementasinya — bukan untuk menentukan teknologi apa yang akhirnya dipakai.

Produk akan terus berkembang.

Kebutuhan bisnis akan terus berubah.

Teknologi yang digunakan hari ini juga bisa berbeda di masa mendatang.

Namun selama kami memulai dari tiga pertanyaan yang sama, kami selalu memiliki titik awal yang jelas untuk mengambil keputusan berikutnya.

Bagi kami, Identity → Transaction → Control bukan sekadar tiga istilah.

Ia adalah thinking framework yang membantu kami menerjemahkan sebuah masalah bisnis menjadi sebuah sistem.

AH

Ditulis oleh Solo Mandor Xowlsmith

Software Engineer | System Design • API-Driven Systems • Technology Exploration

Ikuti di LinkedIn →

Baca Juga

Tanya Kebutuhan Sistem